Jumat, 27 Februari 2015

JIKA USTADZ JADI WASIT

Jika Ustadz Jadi Wasit

Di suatu pagi, di hari raya pekanan umat Muslim, yaitu hari jum’at, saya dan teman-teman saya berkumpul di sebuah lapangan besar di belakang kampus. Tidak lain dan tidak bukan, kami berkumpul untuk bertanding sepak bola melawan kelas I’dad Lughawy A (program persiapan bahasa prakuliah). Liga kampus tahun ini baru bergulir kemarin pagi. Seperti biasa, saya ditunjuk oleh Heru Fransisco, penyerang handal asal Padang, untuk menjadi goalkeeper alias penjaga gawang. Sang wasit, Muhajir Ali, yang ditemani dua hakim garis memberi isyarat tanda kick off dimulai. Akhirnya, pertandingan 2×30 menit itu pun dimulai..

Di sela-sela pertandingan, beberapa teman kami yang sedang menunggu giliran tampil sedang mengobrol di kiri gawang. Aku pun ikut nimbrung tanpa basa-basi. Pembicaraannya unik, kami membayangkan bagaimana jika seorang faqih jadi wasit. Tidak hanya itu, dia menerapkan pengetahuan fiqihnya dalam peraturan sepak bola. Sehingga akan banyak diskusi dan perdebatan antar pemain maupun wasit dalam berbagai masalah di dalam pertandingan tersebut.

Obrolan ringan yang dipimpin Hidayatullah, teman sesama wong kito, dan Irfan Hariyanto, orang Jambi yang merantau ke Jawa tersebut memberikan saya sedikit inspirasi untuk membuat artikel ini. Namun saya tidak akan memaparkan perdebatan panjang yang dibahas ulama fiqih seperti apakah lutut laki-laki adalah aurat, dan permasalahan polemik lainnya. Saya hanya akan sedikit menyinggung pelanggaran-pelanggaran syar’i yang banyak terjadi dalam sebuah pertandingan sepak bola dengan permisalan-permisalan berupa dialog antar wasit dan selainnya.

***
Jika ustadz jadi wasit, maka sebelum pertandingan, sang ustadz memberikan kultum (kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit) di hadapan para pemain dan para suporter kedua kesebelasan,
Wasit : “Saudara, semoga Allah senantiasa menjaga kalian. Izinkan sejenak saya sebagai wasit memberikan sedikit wejangan kepada kalian. Dekatkanlah selalu diri kalian kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jagalah lisan kalian dari saling mencela, suporter mencela suporter, suporter mencela pemain, pemain mencela pemain, pemain mencela wasit. Karena siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga baginya. Subhanallah! Bukankah surga adalah cita-cita kita bersama?”
*Para pemain dan para penonton mengangguk takzim.

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seseorang hendak menyogoknya,
Wasit   : “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!
Fulan    : “Bukankah ini suatu perbuatan tolong menolong?”
Wasit    : “Dengarkan! Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  [QS. Al-Maidah: 2]

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain marah-marah karena gagal mencetak gol,
Wasit    : “Janganlah engkau marah karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Orang yang kuat bukanlah dia yang mampu mengalahkan musuh. Namun orang yang kuat adalah dia yang mampu menahan marah ketika dia bisa melampiaskannya. Jika engkau marah, maka berta’awwudz-lah (mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy syaithanir rajiim). Dan jika suatu hal yang tidak engkau sukai menimpamu, maka katakanlah, “Qoddarullahu wama sya-a fa-’al (artinya: Allah sudah mentakdirkan segala sesuatu dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki).”
Pemain : “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).Terima kasih, wasit. Sekarang hatiku lebih tenang dan siap untuk mencetak gol!”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain hendak minum,
Wasit    : “Sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan kepada-Nya. Minumlah dengan tangan kanan karena setan minum dengan tangan kiri. Janganlah boros, karena orang yang boros adalah saudara setan. Hendaklah kamu minum dalam keadaan duduk dan pujilah Allah atas nikmat yang telah Dia berikan untukmu.”
Pemain : “Bismillah. Gluk..gluk.. Alhamdulillah. Thanks, sit. Sekarang dahaga gue udah hilang.Gue akan bermain lebih semangat lagi.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika dua orang pemain bersitegang dan terlibat adu mulut,
Wasit                      : “Tenang, tenang. Janganlah berkelahi. Bukankah mukmin itu bersaudara? Sudah selayaknya bagi seorang muslim jika melakukan suatu kesalahan kepada saudaranya untuk meminta maaf. Dan hendaknya seorang muslim memaafkan kesalahan saudaranya.”
Pemain A             : “Maafkan saya, kawan. Saya tadi tidak sengaja menyikutmu.”
Pemain B             : “Ia, maafkan saya juga. Saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.”
*Bejabat tangan lalu berpelukan
Wasit                      : “Indah, bukan? Jika suatu ikatan dilandasi syari’at Islam yang begitu mulia.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain ketahuan melakukan diving dengan sengaja,
Wasit    : “Saudara, janganlah Anda berpura-pura terjatuh untuk mendapatkan keuntungan bagi tim Anda dan merugikan tim lawan. Hal itu tidak lain adalah dusta dan itu tercela. Bermainlah secara sportif, karena itu lebih dekat kepada takwa. Kejujuran adalah jalan menuju surga sedangkan dusta adalah jalan menuju neraka.”
Pemain : “Maafkan saya, sit. Saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika pertandingan telah usai,
Priiit, priiit, priiit
*Peluit tanda pertandingan telah berakhir terdengar
Wasit    : “Terima kasih kepada kedua tim yang telah menunjukkan performa terbaik sebagai seorang muslim dalam permainannya hari ini. Semoga dengan olahraga ini, fisik kita semua semakin bugar. Sehingga kita semakin kuat menjalankan perintah-perintah Allah. Kepada tim yang kalah, diharapkan pekan depan menyetor 5 buah hapalan hadis dari kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dan agar dosa dan kesalahan yang terjadi di dalam pertemuan kita kali ini dihapuskan oleh Allah, maka hendaknya kita membaca doa Kaffaratul Majlis: Subhaanakallaahumma Wabihamdika Asyhadu allaa Ilaaha illa Anta Astaghfiruka wa Atuubu Ilaika.”

28 Dzulhijjah 1432 H / 24 November 2011 M
Sebuah pagi menjelang bermain bola
Di penghujung akhir tahun hijriyah

Penulis : Roni Nuryusmansyah
Artikel   : kristalilmu.com

http://www.kristalilmu.com/jika-ustadz-jadi-wasit/

Rabu, 25 Februari 2015

Mengarahkan wajah dan mata kepada khotib

   Kebanyakan kita setiap kali sholat jumat, tatkala khutbah sedang dimulai, banyak perilaku yang bisa kita lihat. Sebagian nya menutupkan mata, sebagian lagi menundukkan pandangan ke lantai, dan sebagian lagi “clingak-clinguk” ke mana ada yang menarik pandangannya dari jamaah yang hadir belakangan.Bagaimana yang benar? Jawabnya, arahkan mata kita ke arah khotib yang sedang berbicara, konsentrasi lah…………..mari kita simak hadist-hadist yang menunjukkan akan sunnah yang banyak ditinggalkan oleh manusia..

Al-Imam Bukhari dalam kitabnya membawakan judul bab “Bab Menghadapnya Imam kepada Kaum, dan Menghadapnya Manusia kepada Imam tatkala Khutbah dan Ibnu Umar dan Anas radhiallahu anhuma menghadapkan wajah mereka kepada Imam”, Al-Hafidz Ibnu Hajar dala Al-Fath mengatakan: Diantara hikmah menghadapkan wajah ke Imam adalah agar bisa konsentrasi mendengarkan ucapan khotib, juga melakukan adab yang baik ketika mendengar.Jika seseorang menghadapkan wajah kepada Imam kemudian bersikap badan yang baik serta berkonsentrasi maka akan memudahkan baginya untuk memahami pelajran yang disampaikan.Juga ini sesuai dengan disyariatkannya khotib untuk berdiri.
Al-Imam Albani rahimahulloh dalam Silsilah Shahihah No.2080membawakan riwayat-riwayat sebagai berikut:

PertamaSebagian sahabat Nabi shalallahu ‘alahi wasalam meriwayatkan bahwa: Apabila Nabi naik mimbar, kami hadapkan wajah-wajah kami kepadanya.
KeduaDari Abban bin Abdillah al-Bajili berkata:Saya melihat Uday bin Tsabit menhadap khotib tatkala berdiri untuk khutbah. Saya bertanya kepadanya: ”Saya melihat anda menghadapkan wajah kearah imam? Kata Uday bin Tsabit: ”Saya melihat demikian yang dilakukan para sahabat Nabi”
KetigaDari Abdullah bin Mas’ud: “Ketika Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasalam naik mimbar, kami hadapkan wajah-wajah kami kepada beliau” Dikeluarkan Imam Tirmidzi, dimana beliau berkata: ”Di bab yang sama ada riwayat dari Ibnu Umar dan Muhammad ibn Al-Fadhl. Berdasar pendapat para ulama dari kalangan sahabat Nabi shalalallahu ‘alaihi wasalam dan lainnya maka inilah yang patut diikuti. Mereka menganggap sunnah menghadapkan wajah kepada khotib di mimbar. Ini pula pendapat yang dianut Sufyan At-Tsauri, al-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.
KeempatDari Yahya bin Sa’id Al-Anshori berkata: ”Adalah sunnah apabila Imam duduk di mimbar di hari jumat,menghadapkan wajah kepadanya”
KelimaDari Nafi’ bahwa Ibnu Umar biasa menyelesaikan tasbihnya sebelum imam datang. Apabila telah keluar, maka sebelum imam duduk, Ibnu Umar menghadapkan wajah ke arahnya.

Sumber : fiqihislam.wordpress.com

perbedaan pendidikan antara pesantren dan sekolah umum

A. Sekolah Umum

1. Kelebihan Sekolah Umum
adapun kelebihan pada sekolah umum diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kurikulum
1) Memiliki kurikulum tetap dan mengikuti perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
2) Memiliki buku ajar yang permanent untuk proses belajar mengajar yang efektif.
3) Satuan Pelajaran yang sudah ditetapka menjadi acuan dalam proses belajar mengajar
b. Metode Pengajaran
ada beberapa metode yang dipakai dalam pendidikan sekolah umum,diantaranya adalah sebagai berikut :
1)  ceramah, bermain, praktikum, Tanya jawab dan lain-lain yang disesuaikan dengan bidang studinya. 
2) Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tidak di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.

c. Lingkungan Belajar
1) Proses Belajar Mengajar berlangsung selama 7 Jam min atau max 9 jam dalam sehari.
2) Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.

d. Komponen Warga Belajar
1) Guru yang tetap
2) Peserta Didik
3) Sekolah berjenjang
4) wali murid atau orang tua

2. Kekurangan Sekolah Umum
a. Kurikulum
1) Harus selalu mengikuti perkembangan yang disampaikan oleh pemerintah.
2) Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah
b. Metode Pengajaran
1) Bangunan Sumber Daya Manusia dalam mengajar kurang maksimal.
2) Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar.
c. Lingkungan Belajar
1) Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap
2) Membutuhkan biaya pendidikan yang mahal
d. Komponen Warga Belajar
1) Wali siswa kebanyakan kurang andil bagian dalam proses belajar mengajar
2) Tenaga pendidik kurang dalam menambah pengetahuan sehingga peserta didik merasa bosan dengan apa yang disampaikan.
B. Pesantren
1. Kelebihan Pesantren
adapun kelebihan dalam pendidikan di pesantren adalah sebagai berikut :
a. Kurikulum
1) Pesantren mampu membuat dan menentukan kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang ditentukan oleh pemerintah.
2) Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan pesert didik
b. Metode Pengajaran
1) Mampu mengembangkan metode-metode baru dalam menanamkan konsep maupun mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
2) Peserta didik dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (studi) kasus secara langsung  dengan dewan guru (ustadz / ustadzah)yang bersangkutan.
3) Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung
c. Lingkungan Belajar
1) Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik dari pendidik
2) Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena dilakukan di dalam asrama.
d. Komponen Warga Belajar
1) Asrama, Kyai, Tempat Belajar, Ruang Praktikum, Santri, Guru, wali santri.
2) Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar dan ibadah

2. Kekurangan Pesantren
a. Kurikulum
1) Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuan, dan sekehendak kyai
2) Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau tamat menempuh pendidikan pesantren
b. Metode Pengajaran
1) Aktifitas santri untuk bertanya kurang
2) Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran, sehingga sebagian santri cepat bosan dengan metode tersebut.

c. Lingkungan Belajar
1) Kebersihan lingkungan terkadang diabaikan
2) kurangnya tempat untuk belajar lebih konsentrasi
d. Komponen Warga Belajar
1) Dikarenakan setiap santri diwajibkan belajar mandiri dapat mengakibatkan seorang santri malas dan bahkan terjerumus kedalam keburukan, karena kurangnya bimbingan dari para guru atau ustadz.

C. Kesimpulan
dengan adanya perbedaan antara pendidikan di pesantren dengan pendidikan di sekolah umum, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa apabila kelebihan yang ada di sekolah umum dan di pesantren digabungkan maka akan menghasilkan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas.

Sumber : http://bidaulan.blogspot.com/

Makna Shalat Berjamaah From santri for All



Didalam hadits dikatakan bahwa pahala shalat berjamaah adalah 27 kali dibandingkan dengan shalat sendiri. banyak orang Islam berhitung secara kuantitatif seolah-olah dengan melakukan shalat berjamaah maka ia akan menabung pahala sebanyak 27 kali. Demikian juga ketika di dalam hadis dikatakan bahwa shalat di Masjidil Haram akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak seratus ribu kali lipat. Luar biasa.


Saya pribadi memahami masalah ini dari sisi kepemimpinan dan persatuan Islam. Shalat berjamaah berarti berkelompok dengan panduan seorang imam. Apa yang dilakukan imam akan diikuti oleh makmumnya, kecuali imam salah. Semua makmum harus berbaris dengan shaf yang teratur dan lurus. Semua mengikuti arah Imam, betapa kuatnya organisasi ini. Siapa yang dapat mematahkan shaf yang kokoh? Sayang makna dari keuntungan shalat berjamaah luput dimengerti oleh umat islam! Salah satu kunci keberhasilan dakwah di zaman Rasulullah saw adalah persatuan. Salah satu cara menumbuhkan persatuan tersebut adalah dengan shalat berjamaah. Kecintaan mereka, disiplin dan keikhlasan mereka dalam menunaikan shalat berjamaah telah menumbuhkan semangat persatuan dan keberanian yang tinggi diantara mereka. di sisi lain hubungan silaturahmi yang penuh kasih sayang semangat erat terjalin diantara mereka. Sehingga gambaran umat Islam yang bagaikan dua jari dieratkan benar-benar nampak di zaman itu.

Dalam hal disiplin dan kecintaan mereka dalam shalat berjamaah kita dapati di dalam salah satu riwayat bahwa seorang sahabat yang sudah uzur dan tuna netra setiap hari beliau shalat berjamaah ke masjid walaupun jaraknya tidak bisa dibilang dekat, diceritakan bahwa sahabat tersebut meminta keringanan Rasulullah saw untuk beliau khusus untuk shalat subuh shalat di rumah saja. Rasulullah saw mengizinkan, tetapi baru beberapa langkah Rasulullah saw meralat bahwa sahabat tersebut tetap menunaikan shalat berjamaah di Masjid. Betapa tingginya semangat dan disiplin yang terbentuk waktu itu. Bisa kita bayangkan seandainya di Masjid Istiqlal, setiap umat Islam yang berada di dalam radius beberapa kilometer dari Masjid - menunaikan ibadah shalat berjamaah di Masjid lima kali sehari - majid tersebut mungkin tidak akan mampu menampung, dan kitapun bisa membayangkan dampak persatuan, kecintaan dan kebaikan akan lebih terbentuk di dalam Masyarakat. Dan lebih luas lagi musuh-musuh Islam yang melihat tentu akan gentar melihat persatuan Islam yang terbentuk dari hal yang paling mendasar sekali.

Contoh dalam hal ini adalah di Perancis, Islam yang dari sisi prosentase sebenarnya masih jauh dibandingkan dengan masyarakat asli yang beragama non Muslim, tetapi Islam yang sedikit tersebut sudah menjadikannya sebagai 'ancaman' bagi eksistensi umat Kristiani disana. Betapa tidak kita menyaksikan bahwa setiap ibada shalat toko-toko disana sampai tutup karena orang-orang Islam yang harus shalat di jalan-jalan dan trotoar, karena tidak tercukupinya Masjid untuk menampung umat Islam yang semakin bertambah. Ketakutan itu seharusnya memang tidak perlu dirisaukan, karena semakin shaleh dan taatnya seseorang pada agama dan bentuk-bentuk peribadatan, tentu hal itu akan membawa seseorang akan semakin saleh secara sosial, karena itu adalah tuntutan pasti dari Islam. Sehingga dampak tersebut akan terasa di kalangan masyarakat Perancis sendiri. Tetapi walau bagaimanapun kita pun mengerti ketakutan mereka jika kita membandingkannya dengan tindakan-tindakan terorisme yang dilakukan oleh 'oknum-oknum' muslim. Jadi Shalat berjamaah adlah hal yang harus selalu kita perhatikan, tidak sekedar kita menganggap untuk kepentingan pribadi kita, tidak sekedar untuk memenuhi masjid tetapi lebih dari itu adalah kita harus menumbuhkan persatuan Islam, persatuan dalam bermasyarakat dan persatuan dalam beragama.

Sumber : http://1artikelislam.blogspot.com/


Copyright @ 2013 ANNABIL UNTUK ISLAM.